TikTok Hadapi Gugatan Privasi Data dari Jutaan Anak di Inggris

0 46

Media sosial berbasis video TikTok menghadapi gugatan privasi data yang diajukan atas nama jutaan anak di Inggris dan Eropa. Gugatan itu menuduh TikTok dan perusahaan induknya ByteDance melanggar undang-undang perlindungan data pribadi.

Gugatan itu diajukan oleh Anne Longfield, mantan Komisaris Anak Inggris. Menurutnya, data setiap anak yang telah menggunakan aplikasi TikTok sejak Mei 2018, terlepas dari status akun atau pengaturan privasinya, kemungkinan telah dikumpulkan secara sepihak.

“Dikumpulkan untuk kepentingan pihak ketiga yang tidak diketahui,” bunyi isi gugatan, seperti dikutip Gadget NDTV, Kamis 22 April 2021. Gugatan itu menyatakan berusaha untuk menghentikan TikTok yang secara ilegal memproses informasi data jutaan anak dan menuntut informasi pribadi apa pun dihapus.

Kasus ini mengikuti peningkatan pengawasan aplikasi oleh beberapa pengawas data Uni Eropa. Tahun lalu, regulator perlindungan data Uni Eropa berjanji untuk mengkoordinasikan penyelidikan potensial ke perusahaan Cina, membentuk satuan tugas untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pemrosesan dan praktik TikTok. 

Di Amerika Serikat, ByteDance didenda US$ 5,7 juta pada 2019 oleh Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk tuduhan bahwa Musical.ly, yang dibeli oleh ByteDance dan diganti namanya menjadi TikTok, secara ilegal mengumpulkan informasi anak. Itu adalah hukuman FTC terbesar dalam kasus privasi anak-anak. 

TikTok mengatakan bahwa klaim dalam kasus di Inggris “kurang berdasar” dan akan membela diri dengan penuh percaya diri. Bagi aplikasi video pendek itu, privasi dan keamanan adalah prioritas utama. “Kami memiliki kebijakan, proses, dan teknologi yang kuat untuk membantu melindungi semua pengguna, dan pengguna remaja kami pada khususnya,” kata TikTok.

Gugatan diajukan pada Desember 2020, tapi rinciannya baru dirilis pada Rabu, 21 April 2021. Jika kasusnya berhasil, anak-anak bisa mendapatkan kompensasi ribuan poundsterling dari TikTok. Para penggugat memperkirakan bahwa ada lebih dari 3,5 juta anak di Inggris saja yang terdampak.